Page 1
Standard

Di vs Me

wa14Kalau dalam keseharian kita maunya dan berharap dipahami terus oleh orang lain.. memang akan membuat kita sangat nyaman.. namun waspadalah pada saat anda sudah terlalu nyaman dipahami.. :)

 

 

 

Gallery

Komunikasi VS Persepsi

komunikasi vs persepsi

When communicating, are we communicating or arguing about our perception? Communicating is about to understand and in the return we will be understood. So the first thing is we need to understand the perception of others and also ourselves. and most of the time our perception are wrong than being right. That is why it is easier to mis-communication than have a good communication.

Standard

Meta Ignoring

Berikut saya forwardkan tulisan dari seorang Meta-Masters Practitioner yang cukup meng-inspirasi. Selamat menikmati :-)
Meta Ignoring
Kita adalah meaning maker. Sejak bangun tidur, berangkat kerja, di tempat kerja sampai kembali tidur  kita membuat makna. Ketika terlambat bangun kita memberi makna, ketika di jalan ada pengendara lain yang tiba-tiba memotong jalan kita, kita memberi makna,  ketika ada orang menatap kita, dan ketika kurang tidur kita memberi makna kepada kurang tidur kita. Bahkan di dalam mimpipun kita membuat makna. Terbukti di dalam mimpi kita bisa merasa takut, senang, enak, penasaran, kecewa, dll, itu karena makna yang  kita berikan. Continue Reading →
Standard

emosi

Emosi-lah yang membuat kita bahagia, sedih, marah, santai, senang, takut, netral, dll. Emosi juga yang membuat kita mau melakukan sesuatu atau tidak. Emosi juga dapat membuat kita sehat atau sakit.

Banyak hal yang dapat emosi lakukan terhadap diri kita, sehingga satu kecerdasan yang sangat penting untuk kita latih adalah kecerdasan kita dalam mengelola emosi.

Agar kita yang mengelola emosi, bukan kita yang dikelola oleh emosi.

Standard

LEARNING — A KEY SELF-ACTUALIZATION FACTOR

From: L. Michael Hall, Ph.D.

LEARNING —

A KEY SELF-ACTUALIZATION FACTOR 

 

In 1990, when Peter Senge wrote The Fifth Discipline he was looking to identify a frame or key factor for effective and successful organizations.  He came up with five— which he then categorized as the five disciplines: systemic thinking, personal mastery, mental models, shared vision, and team learning.  Like many before and after him, he knew that organizations had to change from the command-and-control model of authoritarian leadership, from the rigid, hierarchical, and controlling models of the past.  And his solution was to create the learning organization.  For him this meant an organization with people growing, thinking systemically, able to change their mental models, and even learn together through dialogue.  Continue Reading →

Standard

Being Happy

Saya baru mengikuti upacara wisuda di salah satu universitas di luar negri beberapa hari lalu dan memperoleh inspirasi untuk menulis artikel ini. Di awal upacara, Rektor  universitas tersebut mengawali pidatonya dengan mengatakan bahwa ketika merancang pidato untuk upacara wisuda itu, beliau ditawari dengan berbagai pilihan topic. Pilihan pertama, tentang sepakbola yang sedang ramai dibicarakan. Beliau menolak, karena merasa kurang tahu tentang sepakbola ini. Lalu pilihan kedua, tentang kompetisi pasar yang akan dihadapi para alumnus di masa kini. Beliau berpikir dan kemudian menolak lagi, karena beliau yakin para alumni sudah tahu dan mempelajari
betapa kompetitif-nya permintaan pasar saat ini, dan tentunya sudah bersiap siaga menghadapi keadaan ini. Dan yang paling menarik buat saya adalah pilihan ketiga yang akhirnya menjadi topic pidato hari itu, BEING HAPPY. Continue Reading →